Badai Layoff: Analisis PHK Besar-besaran Amazon, Twitter, dan Vimeo

Fenomena badai PHK melanda raksasa teknologi seperti Amazon, Twitter, dan Vimeo di awal tahun 2023. Simak faktor ekonomi dan kebijakan internal yang melatarbelakanginya.

Jan 09, 2023 - 07:21
Diperbarui: 3 tahun yang lalu
1 0
Badai Layoff: Analisis PHK Besar-besaran Amazon, Twitter, dan Vimeo
Ilustrasi kotak kardus berisi barang-barang kantor yang merepresentasikan pemutusan hubungan kerja atau PHK karyawan di sektor industri teknologi.

Gelombang pemutusan hubungan kerja atau badai PHK besar-besaran di industri teknologi global tampaknya masih jauh dari kata usai. Sejak krisis kesehatan global melanda pada beberapa tahun ke belakang, banyak korporasi multinasional yang terseok-seok dalam menghadapi volatilitas ekonomi. Restrukturisasi bisnis demi memangkas beban biaya operasional memaksa ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka, termasuk yang menimpa raksasa digital seperti Amazon, Twitter, dan Vimeo.

1. Langkah Efisiensi Agresif Amazon

Amazon menjadi salah satu korporasi yang melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala paling masif. Perusahaan ini merumahkan lebih dari 18.000 karyawan. Mayoritas pemangkasan ini menyasar divisi Amazon Stores serta unit People, Experience, and Technology (PXT).

Angka pemangkasan tersebut mencakup sekitar 1,2 persen dari total keseluruhan pekerja penuh waktu maupun paruh waktu Amazon yang tercatat mencapai 1,5 juta orang. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari langkah efisiensi sebelumnya, di mana Amazon juga sempat memberhentikan sekitar 10.000 pekerja akibat perlambatan pertumbuhan belanja konsumen global serta melonjaknya biaya operasional.

2. Restrukturisasi dan Kontroversi Internal Twitter

Di bawah kepemimpinan baru Elon Musk, Twitter terus melanjutkan pembersihan internal dengan memangkas operasional karyawannya. Langkah pengurangan ini berfokus pada tim moderasi konten global, khususnya unit yang bertanggung jawab menangani ujaran kebencian, misinformasi, serta ujaran pelecehan.

Kebijakan pemangkasan tersebut berdampak langsung pada para pekerja di kantor regional utama Twitter, seperti di Dublin (Irlandia) dan Singapura. Langkah drastis ini melengkapi keputusan ekstrem sebelumnya ketika Twitter merumahkan sekitar 3.700 karyawan sebagai bagian dari strategi menekan pengeluaran. Namun, gelombang pemecatan massal ini tidak luput dari persoalan hukum setelah munculnya gugatan yang menuding adanya ketidakberimbangan gender dalam proses pemecatan karyawan perempuan.

3. Strategi Bertahan Vimeo di Tengah Kerugian

Tidak ketinggalan, platform penyedia layanan berbagi video premium, Vimeo, juga mengambil tindakan serupa demi menjaga stabilitas finansial korporasi. Manajemen Vimeo mengumumkan pengurangan jumlah tenaga kerja tetap mereka sebesar 11 persen.

Keputusan pahit ini diambil demi membuat fokus bisnis perusahaan menjadi lebih ramping di tengah tingginya ketidakpastian kondisi ekonomi makro. CEO Vimeo, Anjali Sud, mengungkapkan bahwa korporasi mengalami tekanan keuangan yang cukup berat. Hal ini tecermin dari laporan performa kuartal ketiga tahun sebelumnya yang mencatatkan lonjakan kerugian bersih hingga menyentuh angka 21,4 juta dolar AS.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Menyenangkan Menyenangkan 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
hafsahazzahra09

Konten Kreator dan Penulis

Komentar (0)

User