Algoritma AI Tingkatkan Akurasi Pemilihan Embrio IVF Bayi Tabung

Algoritma AI bernama STORK-A diklaim mampu memprediksi kelainan kromosom (aneuploidi) pada embrio IVF secara non-invasif, membuat program bayi tabung lebih hemat dan akurat.

Jan 08, 2023 - 11:25
Diperbarui: 3 tahun yang lalu
0 0
Algoritma AI Tingkatkan Akurasi Pemilihan Embrio IVF Bayi Tabung
Proses analisis laboratorium medis menggunakan teknologi modern untuk penelitian sel dan embrio dalam program bayi tabung.

Program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) menjadi salah satu solusi medis utama untuk mengatasi berbagai masalah kesuburan. Dalam perkembangan teknologi terbaru, integrasi kecerdasan buatan (AI) terbukti mampu membantu proses pemilihan embrio IVF menjadi jauh lebih akurat, efisien, dan ramah biaya.

Tantangan Kelainan Kromosom (Aneuploidi) pada Embrio

Salah satu penyebab utama kegagalan implantasi embrio atau keguguran dalam program program bayi tabung adalah jumlah kromosom yang tidak normal, atau dikenal sebagai kondisi aneuploidi. Selama ini, klinik kesuburan mendeteksi kondisi tersebut menggunakan metode biopsi invasif yang disebut Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidies (PGT-A).

Meskipun memberikan hasil yang akurat, prosedur PGT-A memerlukan biaya operasional yang sangat mahal serta memiliki risiko karena harus mengambil sampel sel langsung dari embrio. Hal inilah yang mendorong para peneliti global untuk mencari alternatif teknologi yang lebih aman dan terjangkau.

Cara Kerja Algoritma STORK-A Berbasis AI

Riset mutakhir dari tim ilmuwan di Weill Cornell Medicine berhasil mengembangkan sebuah algoritma kecerdasan buatan bernama STORK-A. Hasil studi ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah ternama The Lancet Digital Health. Teknologi ini memanfaatkan teknik komputer visi untuk mendeteksi potensi kelainan genetik secara non-invasif.

STORK-A bekerja dengan cara menganalisis citra mikroskopis digital dari embrio yang diambil pada hari kelima setelah pembuahan (fase blastokista). Data visual tersebut kemudian dikombinasikan dengan variabel klinis penting lainnya, seperti faktor usia ibu serta skor penilaian konvensional dari staf laboratorium, guna menghasilkan prediksi yang sangat objektif.

Akurasi Tinggi Tanpa Prosedur Invasif

Dr. Iman Hajirasouliha, salah satu penulis senior sekaligus profesor di Weill Cornell Medicine, menjelaskan bahwa sistem AI ini mampu mempelajari karakteristik mikroskopis embrio yang terlalu samar untuk dilihat secara manual oleh mata manusia. Tim peneliti melatih model canggih ini menggunakan kumpulan data besar yang mencakup 10.378 blastokista.

Berdasarkan hasil uji klinis, STORK-A mencatatkan tingkat akurasi mencapai 69,3 persen dalam membedakan embrio normal (euploid) dan abnormal. Menariknya lagi, untuk mendeteksi aneuploidi kompleks yang melibatkan lebih dari satu kromosom, tingkat akurasi algoritma ini melonjak hingga 77,6 persen. Keandalan sistem ini juga telah divalidasi menggunakan data independen dari klinik kesuburan di Spanyol, membuktikan bahwa teknologi ini siap diimplementasikan secara universal.

Dengan hadirnya inovasi medis berbasis kecerdasan buatan ini, masa depan program IVF diharapkan dapat berjalan dengan risiko kesehatan minimal, tingkat keberhasilan kehamilan yang lebih tinggi, serta mampu memangkas pengeluaran finansial calon orang tua secara signifikan.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Menyenangkan Menyenangkan 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0

Komentar (0)

User