Misteri Terpecahkan: Ilmuwan Temukan Penyebab Utama Anosmia (Hilang Penciuman) Akibat COVID-19
Mengapa penyintas COVID-19 sering kehilangan indra penciuman (anosmia) dalam jangka waktu lama? Ilmuwan mengungkap pemicu medis di balik kondisi ini.
Kehilangan indra penciuman atau anosmia menjadi salah satu gejala khas yang paling sering dialami oleh penderita COVID-19. Selama fase awal pandemi, mekanisme medis pasti di balik hilangnya kemampuan sensorik ini sempat menjadi misteri besar di kalangan medis.
Namun, teka-teki tersebut akhirnya mulai menemui titik terang. Sebuah publikasi ilmiah terbaru yang dirilis melalui jurnal bergengsi Science Translational Medicine telah mengungkap secara detail penyebab biologis di balik gagalnya fungsi saraf pembau pada pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2.
Penelitian Mendalam Ilmuwan Duke Health
Pada awalnya, para ahli menduga bahwa virus secara langsung menyerang dan mematikan sel saraf yang bertanggung jawab atas kepekaan sensasi bau. Untuk mencari jawaban pastinya, tim peneliti yang dipimpin oleh Bradley Goldstein, M.D., Ph.D., profesor dari Duke’s Department of Head and Neck Surgery and Communication Sciences, melakukan analisis khusus.
Bekerja sama dengan pakar dari Universitas Harvard, Sandeep Datta, M.D., Ph.D., tim ini membedah sampel epitel penciuman yang dikumpulkan dari 24 proses biopsi. Sembilan di antaranya adalah sampel dari pasien yang menderita kehilangan indra penciuman secara permanen atau jangka panjang (long COVID) pasca-infeksi.
Infiltrasi Sel-T dan Radang Epitel Olfaktorius
Dengan menggunakan metode analisis sel tunggal yang canggih, para ilmuwan menemukan adanya infiltrasi luas dari sel-T (sel darah putih pelindung kekebalan tubuh). Infiltrasi ini memicu respons inflamasi atau peradangan hebat tepat pada area epitel olfaktorius, yakni jaringan khusus di dalam rongga hidung tempat di mana saraf-saraf penciuman bermukim.
Hal yang mengejutkan, proses peradangan destruktif ini diamati terus berlangsung di hidung penyintas, meskipun tingkat virus SARS-CoV-2 di dalam tubuh mereka sudah tidak lagi terdeteksi.
Penurunan Drastis Jumlah Neuron Sensorik
Peradangan konstan ini membawa dampak lanjutan yang merugikan. Jumlah neuron sensorik penciuman pada pasien terdeteksi menurun akibat kerusakan jaringan halus dari inflamasi yang tidak kunjung reda. Bradley Goldstein mengibaratkan kondisi ini hampir menyerupai proses autoimun lokal di dalam hidung, di mana sistem kekebalan terus-menerus bereaksi berlebihan.
Harapan Baru untuk Terapi Pemulihan
Pemahaman mengenai lokasi kerusakan jaringan secara spesifik dan jenis sel apa saja yang terlibat adalah pondasi penting untuk merumuskan terapi pengobatan yang tepat sasaran.
Kabar baiknya, jaringan neuron yang masih tersisa dilaporkan mampu mempertahankan kemampuan untuk memperbaiki diri (regenerasi) secara mandiri setelah serangan sistem kekebalan mereda. Temuan ini menyimpulkan bahwa dengan memodulasi atau meredam respons imun abnormal di dalam hidung penderita, dokter dapat membantu mengembalikan fungsi indra penciuman pasien secara bertahap.
Penelitian inovatif yang didanai oleh National Institutes of Health ini diharapkan dapat menjadi pintu gerbang untuk mengobati berbagai gejala long COVID lainnya, mengingat banyak pasien yang mengalami proses peradangan serupa pada organ yang berbeda, seperti kelelahan kronis, sesak napas, hingga kabut otak (brain fog).
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Menyenangkan
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)