Menyikapi Perbedaan Penetapan Idul Fitri dengan Semangat Toleransi

Perbedaan metode penetapan Idul Fitri adalah hal yang lumrah dalam ijtihad para ulama. Simak imbauan MUI agar perbedaan ini tidak menjadi perpecahan.

Apr 20, 2023 - 15:50
Diperbarui: 3 tahun yang lalu
0 0
Menyikapi Perbedaan Penetapan Idul Fitri dengan Semangat Toleransi
Ilustrasi keberagaman umat Islam dalam menyambut hari raya.

Harmoni dalam Keberagaman Penentuan Hari Raya

Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas mengimbau seluruh umat Islam untuk senantiasa menjaga semangat saling menghormati dan menghindari konflik terkait potensi perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri.

Menurut Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan maupun Syawal merupakan persoalan ijtihadiyah. Artinya, hal ini berada dalam wilayah yang sangat mungkin memunculkan beragam pendapat berdasarkan metode yang diyakini oleh masing-masing organisasi Islam.

Mengedepankan Ilmu dan Toleransi

Ni'am menekankan bahwa agama harus dijalankan dengan berbasis ilmu pengetahuan, sehingga perbedaan yang ada justru dapat melahirkan sikap saling menghargai, bukan perselisihan. Semangat harmoni dan persatuan harus menjadi prioritas utama umat.

Terkait penetapan 1 Syawal 1444 H, masyarakat diharapkan untuk menunggu hasil keputusan sidang isbat yang dilakukan oleh pemerintah. Sidang isbat ini melibatkan berbagai pihak berkompeten, mulai dari ahli astronomi dan falak, perwakilan organisasi Islam, hingga pertimbangan dari MUI.

Menghargai Pilihan Ijtihad

Dalam konteks perbedaan pendapat yang mungkin terjadi, MUI memberikan panduan untuk saling menghormati:

  • Bagi mereka yang meyakini metode wujudul hilal dan menetapkan Idul Fitri pada hari tertentu, silakan melaksanakan salat Id dan tidak berpuasa pada hari tersebut.
  • Bagi pihak yang menggunakan metode rukyah atau hisab imkanur rukyah (dengan kriteria ketinggian hilal 3 derajat) dan menetapkan Idul Fitri pada hari yang berbeda, diharapkan menjalankan ibadah sesuai keyakinan tersebut namun tetap menghormati mereka yang belum berhari raya.

Dengan semangat toleransi ini, perbedaan penanggalan tidak perlu menjadi pemisah. Persaudaraan umat Islam tetap terjaga meski dalam praktik ibadah yang berbeda metode, selama masih dalam koridor ijtihad yang diakui.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Menyenangkan Menyenangkan 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0

Komentar (0)

User