Mengenal 4 Fakta Unik Bunga Edelweiss, Si Bunga Abadi yang Dilindungi

Sering dijuluki sebagai bunga abadi, Edelweiss menyimpan berbagai fakta menarik mulai dari sejarah penemuannya hingga mitos dan larangan memetiknya di alam liar.

Okt 20, 2022 - 18:20
Diperbarui: 17 jam yang lalu
0 1
Mengenal 4 Fakta Unik Bunga Edelweiss, Si Bunga Abadi yang Dilindungi
Oleh Imron Fauzi - Karya sendiri, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=29055625

Memiliki nama ilmiah Anaphalis javanica, bunga Edelweiss adalah tanaman endemik zona alpina atau montana yang kerap dijumpai oleh para pendaki di berbagai gunung di Indonesia. Bunga ini sangat populer karena bentuk dan penampilannya yang cantik. Sayangnya, karena pesona tersebut, banyak pendaki yang tergiur untuk memetik dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan, padahal tanaman ini dilindungi oleh undang-undang.

Julukan "Bunga Abadi" yang melekat pada Edelweiss sering kali diasosiasikan oleh kaum muda sebagai simbol cinta yang tak lekang oleh waktu. Secara biologis, julukan ini sangat masuk akal karena kelopak Edelweiss memang tidak mudah layu atau rontok. Hal ini disebabkan oleh keberadaan hormon etilen pada bunga tersebut yang mampu mencegah kerontokan kelopak dalam waktu yang sangat lama.

Fakta Unik Bunga Edelweiss

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa fakta mencengangkan mengenai bunga Edelweiss yang perlu Anda ketahui sebelum mendaki gunung:

1. Telah Ditemukan Sejak 200 Tahun Silam

Catatan sejarah menunjukkan bahwa bunga Edelweiss pertama kali diidentifikasi pada tahun 1819 oleh Georg Carl Reinwardt, seorang naturalis asal Jerman yang sedang melakukan ekspedisi di Gunung Gede. Berbeda dari mitos keabadiannya, tanaman ini justru sangat rentan terhadap kelembapan tinggi. Edelweiss akan cepat membusuk jika terkena asupan air yang berlebihan.

2. Memiliki Kembaran di Luar Negeri

Spesies Edelweiss ternyata tidak eksklusif hanya ada di Indonesia. Jika di pegunungan Nusantara kita mengenal Anaphalis javanica, di kawasan pegunungan Eropa (seperti Pegunungan Alpen) terdapat kerabat dekatnya yang juga populer, yaitu Edelweiss Eropa yang memiliki nama ilmiah Leontopodium alpinum.

3. Bagian Penting dari Ritual Suku Tengger

Bagi masyarakat Suku Tengger yang mendiami dataran tinggi Gunung Bromo, Edelweiss bukan sekadar tanaman hias, melainkan bagian dari elemen spiritual. Masyarakat Tengger membudidayakan bunga ini melalui program swadaya di pekarangan rumah mereka. Bunga hasil budidaya inilah yang nantinya digunakan sebagai komponen sesajen dalam berbagai upacara adat dan keagamaan Hindu, seperti upacara Kasada, Leliwet, dan Entas-entas.

4. Terdapat Sanksi Tegas Jika Memetiknya

Edelweiss adalah tumbuhan langka yang masuk dalam kategori dilindungi. Peraturan ini tercantum dengan jelas dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pasal 33 ayat 1 melarang keras tindakan memetik, menebang, atau merusak tanaman di zona inti taman nasional. Pelanggar yang nekat mencabut bunga ini dapat dijerat sanksi pidana serta denda maksimal hingga Rp 100 juta.

Menjaga kelestarian Edelweiss di habitat aslinya adalah bentuk cinta yang jauh lebih nyata daripada sekadar memetiknya. Biarkan si bunga abadi tetap mekar di tempat ia seharusnya berada.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Menyenangkan Menyenangkan 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
Keza Felice

Content Writer| Ghost Writer| Author Ig: @Keza236_queen

Komentar (0)

User