Ilmuwan Kembangkan Deteksi Malaria dengan Smartphone dan Spektrometer Portabel
Ilmuwan dari Brasil dan Australia mengembangkan teknologi deteksi malaria menggunakan smartphone dan spektrometer inframerah portabel untuk skrining cepat tanpa pengambilan darah.
Peneliti dari Brasil dan Australia mengembangkan teknologi deteksi malaria berbasis smartphone yang mampu mengidentifikasi perubahan pada darah secara cepat tanpa pengambilan sampel darah secara invasif.
Teknologi ini memanfaatkan spektrometer inframerah portabel yang terhubung dengan smartphone untuk mendeteksi perubahan biologis pada sel darah yang terinfeksi parasit malaria.
Pengembangan alat diagnostik yang cepat dan terjangkau ini diharapkan dapat membantu percepatan program eliminasi malaria global yang ditargetkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Cara Kerja Deteksi Malaria Menggunakan Smartphone
Perangkat spektrometer bekerja dengan memancarkan cahaya inframerah ke bagian tubuh seperti jari, telinga, atau lengan selama beberapa detik.
Cahaya tersebut kemudian menangkap pola spektrum yang mencerminkan kondisi biologis dalam aliran darah seseorang. Perubahan struktur dan komposisi sel darah akibat infeksi malaria menghasilkan karakteristik spektrum yang berbeda dibandingkan individu sehat.
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi malaria atau tidak secara hampir real-time.
Deteksi Non-Invasif dan Cepat
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah proses pemeriksaan yang tidak memerlukan pengambilan darah maupun penggunaan reagen laboratorium.
Dengan metode non-invasif tersebut, pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat dan nyaman bagi pasien, terutama pada wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Setiap perangkat diperkirakan mampu melakukan skrining terhadap sekitar 1.000 orang per hari sehingga sangat potensial digunakan dalam program pemeriksaan massal.
Dikembangkan oleh Peneliti Brasil dan Australia
Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari University of Queensland di Australia dan Instituto Oswaldo Cruz di Brasil.
Para peneliti berharap alat ini dapat membantu menemukan kasus malaria tanpa gejala yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama dalam pengendalian penularan penyakit.
Potensi untuk Penyakit Lain yang Ditularkan Nyamuk
Selain malaria, teknologi berbasis spektroskopi inframerah ini berpotensi digunakan untuk mendeteksi penyakit lain yang ditularkan melalui vektor nyamuk seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya.
Deteksi dini terhadap pasien tanpa gejala dapat membantu mempercepat penanganan dan mengurangi risiko penyebaran penyakit di masyarakat.
Tantangan Global dalam Eliminasi Malaria
Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia, terutama di kawasan Afrika dan sebagian wilayah Asia.
Laporan malaria global menunjukkan bahwa ratusan juta kasus masih terjadi setiap tahun dengan ratusan ribu kematian, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.
Karena itu, inovasi alat diagnostik yang cepat, akurat, dan mudah digunakan menjadi bagian penting dalam mendukung strategi eliminasi malaria dunia hingga tahun 2030.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Menyenangkan
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)